Pentingnya Keanekaragaman Hayati Bagi PT Agincourt Resources

Manusia hidup membutuhkan udara, air, tanah dan lingkungan yang menghasilkan makanan untuk dikonsumsi oleh manusia, dan semua unsur tersebut sangat bergantung kepada keanekaragaman hayati. Apa yang terjadi bila keanekaragaman hayati terancam? Apakah akibatnya di masa mendatang? Bisakah manusia mencegah rusaknya keanekaragaman hayati di masa depan? Keanekaragaman hayati adalah fitur yang paling kompleks dari planet kita dan itu adalah yang paling vital. “Tanpa keanekaragaman hayati, tidak ada masa depan bagi umat manusia,” kata Prof David Macdonald, dari Universitas Oxford.

Keanekaragaman hayati terdiri dari beberapa tingkatan, dimulai dengan gen, kemudian spesies individu, lalu komunitas makhluk dan akhirnya seluruh ekosistem, seperti hutan atau terumbu karang, di mana kehidupan saling mempengaruhi dengan lingkungan fisik. Segudang interaksi ini telah membuat Bumi layak huni selama miliaran tahun. Setiap spesies di dalam satu ekosistem saling bergantung dan saling menunjang. Satu spesies hilang atau terganggu populasinya, akan mempengaruhi perubahan sebuah ekosistem.

Kita ambil contoh keberadaan serangga. Sepertinya terlihat sepele, hanya serangga. Lalu kenapa serangga menjadi penting? Serangga adalah basis dari banyak rantai makanan liar yang mendukung ekosistem, serangga membantu tanaman melakukan penyerbukan dan berkembangbiak, pepohonan yang dapat berkembangbiak dengan baik membantu menghasilkan oksigen yang diperlukan manusia dan makhluk hidup yang lain. Begitulah peran serangga yang benar-benar penting bagi ekosistem yang memberikan kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup yang lain.

Bagi banyak orang yang tinggal di kota-kota besar, satwa liar sering menjadi sesuatu yang hanya bisa dilihat di televisi. Tetapi kenyataannya adalah bahwa udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan makanan yang kita konsumsi setiap hari semuanya pada akhirnya bergantung pada keanekaragaman hayati. Beberapa contoh jelas: tanpa hadirnya tanaman tidak akan ada oksigen dan lebah atau serangga lainnya dibutuhkan oleh pepohonan untuk melakukan penyerbukan sehingga bisa menghasilkan buah-buahan.

Hutan Batangtoru adalah contoh dari sebuah hutan penting di Sumatra Utara yang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi. Hutan Batangtoru membentang di tiga kabupaten–Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan dan di beberapa titik berdekatan dengan pemukiman penduduk. Banyak terjadi kasus hewan liar dari hutan Batangtoru datang atau tersesat ke pemukiman penduduk sehingga memicu konflik antara manusia dan hewan, beberapa hewan tersebut adalah hewan yang dilindungi.

Penting untuk Bumi, Penting untuk PT Agincourt Resources

Konflik antara manusia dengan hewan yang terancam punah sangat berpengaruh pada keseimbangan ekosistem. Hewan yang terancam punah memiliki peran dalam ekosistem. Begitu pula yang terjadi di kawasan hutan Batangtoru. Tertangkapnya atau terperangkapnya satwa langka bisa mengakibatkan penurunan populasi hewan tersebut. PT Agincourt Resources (PTAR) meskipun tidak bisa secara langsung menangani hal tersebut, mempunyai kepedulian dan tanggungjawab secara moral karena pada dasarnya PTAR sangat bergantung kepada keseimbangan ekosistem dan lestarinya keanekaragaman hayati di kawasan operasionalnya. PTAR beroperasi dan menjalankan usahanya di tengah-tengah masyarakat. Lokasi tambang PTAR terletak tidak jauh dari tepi hutan masyarakat. PTAR membutuhkan air untuk mengelola tambang, dan keberadaan air bergantung kepada hutan yang terjaga dengan baik. Hutan yang terjaga memberikan udara, air dan keseimbangan ekosistem kepada banyak kehidupan, termasuk masyarakat di sekitar Batangtoru dan juga PTAR.

Karena itu lestarinya ekosistem dan keanekaragaman hayati menjadi hal penting dan bagian integral dari bisnis PTAR. Melalui departemen Environment PTAR berupaya mendukung berbagai usaha untuk menjaga kelestarian alam di luar area tambang. PTAR menggandeng berbagai pihak seperti akademisi, lembaga pecinta lingkungan, pemerintah dan masyarakat. PTAR secara berkala membiayai dan melakukan penelitian kualitas air dan ekosistem di sungai Batangtoru. PTAR juga mendukung penghutanan kembali dengan menyediakan bibit pohon untuk masyarakat. Kegiatan yang mendukung keseimbangan ekosistem di luar tambang terdiri dari tiga bagian: Pemberdayaan masyarakat, penghijauan kembali dan perawatan serta pelepasliaran satwa yang dilindungi.

Pemberdayaan masyarakat menjadi penting untuk menjaga keanekaragaman hayati karena dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia akan menghasilkan individu yang mempunyai keterampilan dan mampu bersaing di dunia kerja. Penyuluhan tentang pentingnya pelestarian alam menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan dan satwa yang dilindungi. Dengan keterampilan dan pengetahuan itu, masyarakat tidak lagi masuk ke hutan untuk mencari penghidupan dan ikut menjaga kelestarian hutan.

PTAR telah mendukung pembangunan berbagai fasilitas seperti pembangkit listrik mikro hidro, gedung kesenian, perpustakaan, fasilitas kesehatan, pembangunan jalan desa, pembangunan sekolah, pelatihan dan penyuluhan untuk meningkatkan hasil ternak dan tani. PTAR juga mendukung peternakan dan pengembangan ikan jurung, ikan endemik Sumatra Utara. Koperasi Tani Mulia Bakti yang menjadi mitra dari PTAR adalah salah satu koperasi tani terbesar di Sumatra Utara. Masyarakat yang sejahtera akan lebih mudah menjaga lingkungan dan kelestarian alam.

Perhatian PTAR Terhadap Flora dan Fauna Lokal

Untuk pengembangan flora di kawasan hutan Batangtoru, PTAR memiliki departemen Environment yang sangat peduli terhadap berbagai spesies tanaman endemik Batangtoru. Departemen Environment telah menyemai benih dari 310 spesies tanaman lokal seperti kemayau, kemenyan toba, torop, sengon, rambutan hutan, meranti merah dan durian lokal. Di dalam area tambang, 36 hektar lahan telah dihutankan kembali dan menjadi tempat tinggal bagi beragam jenis serangga, burung, mamalia seperti kambing hutan, kera ekor panjang, berbagai jenis katak, ular dan kura-kura juga ditemukan di lokasi revegetasi. Bukti keberhasilan penghijauan kembali diukur oleh keberadaan berbagai jenis hewan yang akan membentuk ekosistem baru.

Departemen Environment secara berkala masuk ke dalam hutan untuk melakukan observasi dan bila menemukan benih tanaman langka yang memungkinkan untuk dipindahkan ke fasilitas nursery, benih tersebut akan diberikan perlakuan khusus dan akan dikembangkan sehingga mencapai jumlah yang menggembirakan di fasilitas nursery. Keberhasilan mengembangbiakkan spesies tanaman langka adalah prestasi yang ingin dicapai oleh Departemen Environment meski untuk saat ini prioritas utama adalah menyemai benih tanaman perintis dan peneduh yang dapat mengikat nitrogen dan mengembalikan kesuburan tanah. Beberapa spesies tumbuhan langka juga diketahui tumbuh di daerah ini seperti bunga raksasa Amorphophalus baccari, A. gigas, dan Rafflesia gadutensis Meijer serta tumbuhan kantung semar antara lain Nephentes sumatrana, N. eustachya, dan N albomarginata. Bunga raksasa Amorphophalus baccari, Rafflesia gadutensis Meijer dan beberapa jenis kantung semar tidak bisa atau sulit dibiakkan.

Fauna juga memegang peran penting dalam ekosistem seperti menjadi inang penyebaran benih, membantu penyemaian dan pengendali populasi. PTAR memberikan perhatian khusus bila terjadi kasus yang melibatkan satwa langka. PTAR mendukung tim dari BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam) Sumatra Utara dan yayasan pecinta lingkungan yang tak kenal lelah memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk melindungi dan menjaga satwa liar. PTAR terlibat secara aktif dan mendukung beberapa kegiatan penyelamatan, perawatan dan pelepasliaran satwa liar.

Pada bulan April 2020, tim dari BBKSDA melepasliarkan seekor kera ekor babi (Macaque Nemestrina) di hutan dekat desa Bandar Baru, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Kera tersebut sebelumnya diikat dengan rantai selama tiga tahun di bawah pohon di halaman rumah penduduk di desa Tandam Hilir II, Hamparan Perak, Deli Serdang. Setelah melakukan pendekatan persuasif, tim dari BBKSDA berhasil mendapatkan kera ini. Kemudian kera tersebut dibawa ke fasilitas perawatan dan beberapa minggu kemudian dilepasliarkan kembali. Sebelumya PTAR telah terlibat dalam merawat seekor anak macan tutul, menghalau seekor kera putih (white fluffy monkey) kembali ke hutan supaya terhindar konflik dengan manusia, perawatan dan pelepasliaran kukang (Nycticebus Coucang), kera ekor panjang dan trenggiling kembali ke alam liar. PTAR juga mendukung patroli bersama tim BBKSDA untuk menemukan dan mencabut perangkap yang dipasang penduduk untuk menangkap rusa atau hewan lainnya. Perangkap ini berpotensi membunuh satwa liar dan langka selain rusa.

Yang terkini, PTAR terlibat dalam usaha perawatan dan pelepasliaran ‘Sri Nabila’, seekor Harimau Sumatra betina yang tertangkap dengan kandang jebak oleh tim BBKSDA di desa Tapus Sipabagu, Aek Bilah, Tapanuli Selatan. ‘Sri Nabila’ kemudian dievakuasi dan dirawat di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Kabupaten Padang Lawas Utara. PTAR memberikan perhatian khusus pada kasus ini karena Harimau Sumatra termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia (International Union for Conservation of Nature-IUCN).

Harimau Sumatra merupakan hewan pemangsa puncak (Apex predator) yang memegang peran penting dalam mengendalikan populasi satwa mangsa seperti rusa, kambing hutan, babi hutan dan hewan lainnya. Selain itu, Harimau Sumatra adalah satu-satunya spesies harimau yang masih dimiliki oleh Indonesia. Dua di antaranya telah dinyatakan punah, yaitu Harimau Jawa dan Harimau Bali.

Menurut data IUCN, di Indonesia, 25% mamalia, 41% amfibi, dan 13% burung terancam punah. Harimau Sumatra sendiri diperkirakan tinggal 400-500 ekor jumlahnya di seluruh Sumatra dan 250 ekor lagi di kebun binatang di seluruh dunia. Begitu satu spesies punah, tidak ada jalan kembali, waktu tidak dapat diputar balik. Bagi PTAR, lestarinya satu spesies memastikan lestarinya seluruh ekosistem. Ekosistem yang baik memberikan lingkungan yang baik karena ekosistem menghasilkan udara, air dan tanah yang baik pula. Pada tahun 1985, seorang biologist asal Amerika, Prof. EO Wilson mengatakan, “Ini adalah satu-satunya dunia hidup yang mungkin pernah kita ketahui, mari kita bergabung untuk memanfaatkannya sebaik mungkin.” Pernyataan EO Wilson 36 tahun lalu kini terdengar lebih mendesak dari sebelumnya. Panggilan untuk melestarikan alam harus dijawab bersama-sama oleh–pemerintah, seluruh pemangku kepentingan, masyarakat dan sektor swasta sesegera mungkin.

PTAR mengelola tambang secara bertanggungjawab di tengah-tengah masyarakat, bersisian dengan lingkungan persawahan dan perkebunan yang juga sangat bergantung pada aliran sungai yang mendapatkan air dari Hutan Batangtoru. Lestarinya keanekaragaman hayati di Batangtoru, memastikan suplai oksigen, udara, air dan tanah yang baik yang dinikmati oleh ratusan ribu jiwa di tiga kabupaten. Hutan Batangtoru adalah paru-paru dan jantung kehidupan di kawasan ini. ***

judi online baccarat togel idn play tangkas88 infini88 slot bonanza88 slot online agen sbobet pragmatic slot pulsa sbobet slot deposit dana situs judi online selot autowin88 slot vegasslot pokerseri joker123