Pertambangan Yang Bertanggungjawab Kepada Alam

PT Agincourt Resources bertekad menjalankan bisnis tambang yang berkelanjutan, bertanggung jawab kepada alam dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar tambang emas Martabe. Sebagai penambang emas terbesar ketiga di Indonesia, PT Agincourt Resources (PTAR) menyadari pentingnya prinsip keberlanjutan. Perusahaan ini melakukan upaya nyata dalam konservasi dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati dengan menyisihkan $28,3 juta untuk menunjang program perlindungan terhadap kelestarian alam dan ekosistem di wilayah Batangtoru, Sumatra Utara.

“Kami memiliki program berkelanjutan untuk mengoptimalkan aset dan biaya, dengan meningkatkan efisiensi dan produktivitas, mengurangi biaya, dan meningkatkan arus kas. Oleh karena itu, kami memiliki target realistis untuk menjadi produsen biaya kuartal pertama menghasilkan lebih dari 350.000 ons emas per tahun,” kata Muliady Sutio, Presiden Direktur PT Agincourt Resources. Dengan efisiensi di segala bidang, PTAR dapat meminimalkan pembukaan lahan dan menjadi tambang yang ramah lingkungan.

Teknologi untuk Pertambangan Berkelanjutan

Tekad PTAR untuk mengelola tambang yang ramah lingkungan bukan sekedar lips service. Meskipun membutuhkan biaya dan pelatihan, PTAR memilih menggunakan teknologi yang lebih maju untuk mengekstrak biji emas dengan sianida. Sianida dan merkuri sama berbahayanya untuk manusia dan lingkungan pada kadar berlebih, tetapi di alam terbuka, sianida lebih mudah terurai dibanding merkuri.

Sianida sering dijumpai dan tidak asing lagi dalam berbagai sisa olahan industri atau tambang. Terdapat juga di alam sebagai sianida bebas dan lebih sering dijumpai membentuk kompleks sianida logam. Zat ini sangat stabil di bawah permukaan tanah atau tanpa cahaya dan mudah terurai dengan cepat di permukaan air atau permukaan tanah yang terpapar cahaya matahari dan terurai sebagai sianida bebas yang tidak berbahaya. Beberapa jenis tanaman seperti Urtica dioica (jelatang) dan Sinapis arvensis (sejenis sawi liar) mampu mendegradasi sianida karena sianida merupakan komponen alami tanaman ini.

Metode pemurnian dengan sianida (sianidasi) diklaim lebih aman karena tidak menghasilkan tailing dan tidak menghasilkan sisa olahan berupa material padat yang bisa mencemari sungai dan membahayakan masyarakat sekitar. Proses ekstraksi emas menggunakan merkuri hanya mencapai 40% sedangkan sianida bisa mencapai 91%. Dengan demikian emas yang dihasilkan menjadi lebih banyak. Metode ini dilakukan dengan menyemprotkan senyawa sianida secara terus-menerus pada bijih mineral dengan kandungan emas yang telah ditempatkan pada area khusus. Bijian mineral (ore) tersebut sebelumnya telah dilakukan proses penghalusan. Kandungan emas di dalam batuan akan larut bersama cairan sianida, yang selanjutnya ditampung pada suatu kolam penampungan. Larutan emas tersebut selanjutnya dipompa menuju pabrik pengolahan untuk dilakukan pemurnian.

Selain teknologi untuk mengekstrak emas yang ramah lingkungan, PTAR juga menerapkan prosedur yang ketat untuk sisa hasil olahan. PTAR memiliki kolam penampungan besar dan fasilitas pengolahan yang membuat semua sisa hasil olahan tambang menjadi netral atau ramah lingkungan.
Sebelum melepas air sisa olahan ke dalam sungai, PT Agincourt Resources menerapkan prosedur yang sangat ketat. Air dalam jumlah besar yang belum mencapai standar keamanan lingkungan ditampung dalam dam besar, kemudian sedikit demi sedikit dialirkan ke dalam fasilitas pengolahan saat hujan turun. Air yang telah melalui proses detoksifikasi dan telah memenuhi standar ambang batas yang diuji di laboratorium kemudian dilepas ke arah sungai dengan disaksikan pihak yang berkepentingan. Air dari alam dikembalikan ke alam dengan kadar yang telah memenuhi standar kualitas air sungai Batang Toru.

“Seluruh fasilitas pengolahan milik PT Agincourt Resources di bawah pengawasan ketat berjenjang mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara hingga Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan” ujar Wira Dharma Putra, Manager PT Agincourt Resources. “Proses pengolahan di tambang kami dilakukan sampai benar-benar netral dan aman.”

“Semua sisa olahan kami kumpulkan di bendungan yang kami buat untuk menyimpannya. Jika ada debit air yang berlebihan saat musim hujan, kami menyalurkan air itu ke fasilitas pengolahan limbah kami sebelum melepaskannya ke Sungai Batangtoru. Sebelum kami melepaskan airnya, kami mengujinya secara transparan di laboratorium independen di Jakarta. Kami membuka hasil laboratorium tersebut di hadapan perwakilan masyarakat dan pejabat setempat. Pengelolaan sisa olahan tambang kami berada di bawah pengawasan langsung Bupati Tapanuli Selatan,” kata Wira.

“Dari fasilitas pengolahan, kami mengalirkan air yang memenuhi baku mutu ke Sungai Batangtoru, sedangkan residunya kami tinggalkan di bendungan penampung. Jadi, material berupa benda padat maupun cair yang keluar dari area tambang benar-benar kami pastikan tidak berbahaya bagi lingkungan dan sudah memenuhi standar baku mutu dari Kementerian LHK,” tambahnya. Klaim ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) membuktikan bahwa air sisa proses dari Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PTAR tidak berpengaruh terhadap kualitas biota air di Sungai Batangtoru. Sementara pemantauan rutin yang dilakukan Departemen Lingkungan PTAR dan Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air Tambang Emas Martabe secara konsisten menunjukkan air sisa proses memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelitian itu disampaikan oleh Kepala Pusat Lingkungan dan Kependudukan, Lembaga Penelitian USU, sekaligus Guru Besar Departemen Biologi USU, Prof. Dr. Ing. Ternala Alexander Barus, yag disampaikan di hadapan para jurnalis dalam acara silaturahmi virtual bulan Ramadhan, Selasa, 4 Mei 2021.

“Dari hasil penelitian ini, kami menemukan bahwa, tidak ada penurunan panjang dan berat ikan sejak penelitian pertama kali dilakukan yakni Oktober 2012. Total terdapat 32 spesies ikan yang kami dapati. Sampel penelitian ini juga tidak kami ambil hanya di sekitar Sungai Batangtoru, tapi juga perairan di sekitar wilayah operasional tambang seperti di Aek Pahu Tombak, dan Hutamosu. Selain ikan, kami juga masih menemukan biota air lainnya seperti plankton dan bentos yang dapat menjadi indikator kondisi air yang baik untuk kehidupan biota air. Semua konsentrasi logam berat yang kami temukan di dalam ikan dari seluruh sampel, masih jauh di bawah standar berbahaya yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,” jelas Ternala.

Meminimalkan pembukaan lahan juga dilakukan pada proses survei dan eksplorasi. Steve McCarthy, Chief Geologist di Agincourt Resources, menjelaskan bahwa PTAR mengoperasikan 13 rig pengeboran sebagai bagian dari kegiatan eksplorasi lanjutan di Martabe, sehingga umur tambang dapat diperpanjang hingga 2050. “Cukup menarik untuk diketahui. sejarah berapa lama waktu yang dibutuhkan, dari penemuan hingga produksi emas yang sebenarnya. Lamanya bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti harga emas, komunitas, izin, dan lain-lain,” kata McCarthy.

Menurut McCarthy, operasi pengeboran didukung oleh helikopter, sehingga tidak perlu membuka kawasan hutan dan meminimalkan dampak lingkungan. “Setelah kegiatan pengeboran selesai, area tersebut juga direhabilitasi,” tambahnya.

Selain pemboran, kata dia, saat ini perseroan juga melakukan survei geofisika permukaan tiga dimensi di kawasan tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi target pengeboran lebih lanjut untuk memperpanjang umur tambang Martabe bahkan hingga melampaui tahun 2050. Oleh karena itu, rencana eksplorasi regional juga telah disusun. Perencanaan ini mendukung efisiensi dan keberlanjutan dalam pengelolaan tambang sehingga memberikan dampak positif terhadap pelestarian alam dan keanekaragaman hayati di kawasan Batangtoru.

Tambang Emas Martabe mulai berproduksi penuh pada 24 Juli 2012, dan memiliki basis sumber daya sebesar 8,8 juta ons emas dan 72 juta ons perak per 31 Desember 2017. Tambang ini dapat memproduksi lebih dari 5,5 metrik ton bijih per tahun, yang menghasilkan sekitar 350.000 ons emas dan hingga 3 juta ons perak. Sekitar seperempat dari lebih dari 2.600 karyawan dan kontraktor PTAR adalah perempuan, 98 persen di antaranya warga negara Indonesia dan lebih dari 70 persen dari desa setempat. Sekitar 29 persen posisi manajerial ditempati oleh perempuan.

PT Danusa Tambang Nusantara memiliki 95 persen saham di Agincourt Resources, sedangkan sisanya milik Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara. Selanjutnya, PT United Tractors memiliki 60% saham Danusa Tambang Nusantara, sedangkan sisanya milik PT Pamapersada Nusantara, keduanya bagian dari PT Astra International Tbk.

Melampaui Keberlanjutan

Agincourt Resources sejak 2012, menanam ribuan pohon di lahan bekas tambang seluas hampir 12 hektar. Saat ini perusahaan sedang menyiapkan 5.000 bibit lagi untuk penghijauan.

“5000 bibit itu termasuk 42 spesies, 32 spesies lokal, sedangkan 10 pohon cepat tumbuh seperti sengon, meranti merah, trembesi dan waru. Kemudian ada juga steelwood, eucalyptus, figwood, macaranca, simarbosibosi, durian, dupa [Styrax benzoin], nangka hutan, hapinis, jottik-jottik dan banyak lagi. Di sini, kami juga memiliki bibit pohon lokal,” kata Fitri Rahmadani, asisten lapangan di departemen lingkungan di Agincourt Resources.

“Pohon kemenyan lokal tidak menghasilkan kemenyan berkualitas tinggi, tetapi merupakan sumber utama kemenyan sumatera yang berkualitas baik dan tulang punggung komoditas kemenyan di masyarakat. Kami pergi ke hutan sekitar dua atau tiga kali sebulan untuk melihat-lihat dan juga mencari bibit. Dan bila kami menemukan spesies flora yang baru atau langka kami bawa ke fasilitas nursery dan kami beri perhatian dan perawatan ekstra,” kata Fitri.

“Kami menstabilkan lahan bekas tambang dengan tanah lapisan atas sebagai media perakaran pada awal proses penghijauan. Sebelum menanam jenis lain, kami menanam pohon sengon dan trembesi untuk membentuk kanopi. Beberapa jenis tanaman tidak dapat tumbuh di bawah sinar matahari langsung, mereka tumbuh lebih baik di bawah kanopi pohon, seperti sengon, karena pohon sengon mengikat nitrogen dan menyuburkan tanah di sekitarnya,” jelas Fitri.

“Kami juga memberikan bibit kepada masyarakat sekitar. Sejauh ini, kami telah mendistribusikan lebih dari 1.000 bibit kepada warga yang meminta kepada kami,” tambahnya.

Bayu Arianto, Environmental Monitoring Superintendent di Agincourt Resources, menjelaskan bahwa kegiatan penghijauan telah memenuhi standar yang ditetapkan dan disetujui oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Dana jaminan reboisasi yang kami keluarkan sesuai dengan areal yang kami rehabilitasi dan kembangkan menjadi hutan atau kebun, seperti yang ada di belakang areal pembibitan ini,” kata Bayu sambil menunjuk hutan kecil di luar pagar pembibitan. Upaya perusahaan tidak berhenti pada penghijauan areal bekas tambang. Ini juga memberdayakan masyarakat setempat dengan membantu pertanian dan perkebunan. Koperasi pertanian di bawah binaan Agincourt Resources ini merupakan salah satu yang terbesar di Sumatra Utara. *

judi online baccarat togel idn play tangkas88 infini88 slot bonanza88 slot online agen sbobet pragmatic slot pulsa sbobet slot deposit dana situs judi online selot autowin88 slot vegasslot pokerseri joker123