Di hutan, kanopi bukan sekadar kumpulan dahan. Bagi primata, itu adalah jalur hidup tempat mereka bergerak, mencari makan, dan berinteraksi tanpa harus menyentuh tanah. Namun ketika lanskap berubah, konektivitas itu ikut terputus.
Di Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh Agincourt Resources, perubahan ini disadari sejak awal sebagai bagian dari risiko yang harus dikelola, bukan dihindari. Dari kesadaran tersebut, lahirlah solusi sederhana namun berdampak: jembatan arboreal.
Jembatan ini berupa tali yang menghubungkan kembali potongan hutan yang terpisah. Fungsinya jelas memberikan jalur aman bagi primata untuk tetap berpindah tanpa harus turun ke tanah, menghindari risiko dari aktivitas kendaraan, sekaligus menjaga interaksi antar kelompok yang penting bagi keberlanjutan genetik mereka.
Lebih dari sekadar penghubung, jembatan ini adalah bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Hingga kini, delapan jembatan arboreal telah dibangun dan tersedia di enam area operasional Martabe, tersebar di TMF East, WPP, Jalan 03, CH 2100, DNX, dan Barani. Desainnya tidak dibuat sembarangan. Setiap detail mulai dari bahan, lengkungan, hingga ketegangan tali dirancang untuk menyesuaikan dengan cara bergerak berbagai jenis primata.
Sebagian menggunakan serat alami seperti sabut kelapa yang ramah lingkungan, sementara sebagian lain menggunakan material sintetis untuk daya tahan yang lebih baik terhadap cuaca. Pendekatannya sederhana: adaptif terhadap kebutuhan satwa, sekaligus realistis terhadap kondisi lapangan.
Untuk memastikan efektivitasnya, Agincourt Resources melakukan pemantauan melalui kamera trap yang dipasang pada Arboreal Bridge sejak 2023 hingga saat ini dan masih terus berlanjut. Hasilnya memberikan gambaran yang lebih dari sekadar angka.
Kamera tidak hanya merekam frekuensi penggunaan, tetapi juga perilaku. Ada primata yang awalnya ragu, lalu perlahan terbiasa. Bahkan, beberapa terlihat bermain di atas jembatan sebuah indikasi bahwa struktur ini mulai diterima sebagai bagian dari habitat mereka.
Pemantauan juga membantu evaluasi desain. Misalnya, primata berukuran besar membutuhkan rentang tali yang lebih lebar untuk menjaga keseimbangan. Dari sisi material, sabut kelapa terbukti ramah lingkungan dan cukup kokoh, namun memiliki keterbatasan dalam ketahanan terhadap cuaca ekstrem dibandingkan material sintetis.
Dari sisi biodiversitas, tercatat enam spesies primata menggunakan jembatan ini tiga di antaranya berstatus terancam punah dan satu rentan menurut IUCN: Presbytis sumatrana, Macaca nemestrina, Macaca fascicularis, Trachypithecus cristatus, Hylobates agilis dan Nycticebus coucang.
Menariknya, setiap lokasi menunjukkan dinamika yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat penggunaan bervariasi, seluruh jembatan berfungsi dan dimanfaatkan.
Pada akhirnya, jembatan arboreal ini bukan hanya infrastruktur kecil di tengah area tambang. Ia adalah simbol pendekatan yang lebih besar bahwa aktivitas operasional dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kehidupan liar.
Di Tambang Emas Martabe, keberlanjutan tidak berhenti pada rencana. Ia diwujudkan dalam solusi nyata, bahkan dari hal yang terlihat sederhana. Karena menjaga konektivitas hutan berarti menjaga keberlanjutan kehidupan di dalamnya.







