Kisah tentang romansa selalu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan manusia. Kita menemukannya dalam musik, film, novel, hingga kisah nyata tentang dua orang yang saling mendukung dan menguatkan. Namun, ternyata hubungan yang saling memberi manfaat juga berlangsung di tempat yang jauh dari pandangan mata yaitu di bawah permukaan tanah.

Di dalam tanah yang gelap, akar tumbuhan dan jamur membangun hubungan yang menarik. Keduanya saling mengenali, berkomunikasi, dan bertukar sumber daya. Hubungan ini disebut mikoriza, yaitu simbiosis antara jamur dan akar tumbuhan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Berawal dari sebuah sinyal
Akar tumbuhan memiliki tugas penting untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Namun, akar tidak selalu mampu menjangkau seluruh sumber daya yang tersedia di sekitarnya. Di dalam tanah juga terdapat berbagai organisme, seperti bakteri, jamur, protozoa, dan mikroorganisme lainnya.
Karena itu, tumbuhan memiliki cara tersendiri untuk menemukan “mitra” yang tepat.
Ketika membutuhkan bantuan jamur mikoriza, akar tumbuhan melepaskan senyawa kimia bernama strigolaktan. Senyawa ini berfungsi sebagai sinyal yang dapat dikenali oleh jamur mikoriza arbuskular di sekitar akar.

Sinyal tersebut kemudian memicu respons dari jamur. Jamur menghasilkan senyawa yang dikenal sebagai faktor Myc, yang membantu proses pengenalan antara jamur dan tumbuhan.
Pertukaran sinyal ini menjadi tahap awal sebelum keduanya membentuk hubungan yang lebih erat. Seolah-olah ada percakapan yang berlangsung tanpa suara, menggunakan bahasa kimia yang hanya dipahami oleh organisme di dalam tanah.
Ketika akar dan jamur bekerja sama
Setelah proses pengenalan berlangsung, jamur mulai mendekati akar tumbuhan. Jamur membentuk benang-benang halus yang disebut hifa. Hifa ini tumbuh menuju akar dan kemudian memasuki jaringan akar melalui mekanisme yang memungkinkan hubungan tersebut terbentuk tanpa merusak sel tumbuhan.
Di dalam sel akar, hifa membentuk struktur bercabang yang disebut arbuskula. Struktur ini menjadi salah satu tempat utama berlangsungnya pertukaran sumber daya antara tumbuhan dan jamur.
Jamur memiliki jaringan hifa yang sangat luas dan halus sehingga dapat menjangkau ruang tanah yang sulit dicapai oleh akar. Melalui jaringan tersebut, jamur membantu tumbuhan memperoleh air dan unsur hara, terutama fosfor. Sebagai gantinya, tumbuhan memberikan sebagian hasil fotosintesis kepada jamur.
Fotosintesis adalah proses ketika tumbuhan menggunakan cahaya matahari, air, dan karbon dioksida untuk menghasilkan senyawa organik sebagai sumber energi. Sebagian hasil proses tersebut kemudian dialokasikan kepada jamur yang membantu tumbuhan memperoleh sumber daya dari tanah.
Dengan kata lain, keduanya saling memberikan apa yang dibutuhkan. Tumbuhan menyediakan sumber karbon, sementara jamur membantu memperluas kemampuan tumbuhan dalam memperoleh sumber daya dari tanah.
Percakapan kecil dengan dampak besar
Hubungan antara tumbuhan dan jamur tidak berhenti pada pertukaran sumber daya. Mikoriza juga memiliki peran dalam ekosistem, termasuk mendukung penyerapan unsur hara oleh tumbuhan dan berkontribusi terhadap pergerakan karbon di dalam tanah.
Tumbuhan menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui fotosintesis. Karbon tersebut kemudian menjadi bagian dari senyawa organik yang digunakan tumbuhan untuk tumbuh. Sebagian karbon juga dialokasikan ke akar dan organisme yang berasosiasi dengannya, termasuk jamur mikoriza.
Hal ini menunjukkan bahwa tanah bukan sekadar tempat tumbuhan menancapkan akar. Tanah merupakan ekosistem yang hidup, tempat berbagai organisme berinteraksi dan saling memengaruhi.
Di bawah permukaan yang tampak tenang, ada jaringan kehidupan yang terus bekerja. Ada akar yang mengirim sinyal, jamur yang merespons, hifa yang menjelajah, serta unsur hara dan karbon yang berpindah dari satu organisme ke organisme lainnya.
Jika hubungan manusia dibangun melalui komunikasi, kepercayaan, dan saling mendukung, alam memiliki bahasanya sendiri. Tumbuhan dan jamur melakukannya melalui sinyal kimia dan pertukaran sumber daya.
Romansa di bawah tanah hadir dalam hubungan yang sederhana, saling mengenali, saling memberi, dan saling menguatkan.
Dari hubungan yang tersembunyi itulah, tumbuhan dapat tumbuh dan ekosistem dapat terus bertahan.







