Bagaimana tim mengetahui satwa yang hidup di sekitar area kerja? Pengamatan keanekaragaman hayati tidak sekadar mencatat satwa yang terlihat, tetapi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mengenali keberadaan, aktivitas, dan kondisi satwa dengan tetap meminimalkan gangguan terhadap habitatnya.
Transek dan Pengamatan Langsung

Melalui metode Visual Encounter Survey (VES), tim menyusuri jalur yang telah ditentukan untuk mencatat satwa maupun tanda keberadaannya, seperti jejak kaki, kotoran, sarang, bekas cakaran, dan suara. Data ini membantu memahami keberadaan, kepadatan, dan persebaran satwa di suatu kawasan.
Pengamatan Reptil dan Amfibi pada Malam Hari

Melalui night herping, tim mengamati reptil dan amfibi yang aktif setelah matahari terbenam. Pengamatan dilakukan di lokasi yang berpotensi menjadi habitat, seperti tepian sungai, kolam, dan semak. Metode ini membantu mengungkap kehidupan satwa yang tidak banyak terlihat pada siang hari.
Kamera Jebak

Satwa yang pemalu atau jarang terlihat diamati menggunakan kamera jebak (camera trap). Perangkat dengan sensor gerak dipasang di lokasi strategis dan dapat merekam aktivitas satwa secara otomatis, baik siang maupun malam. Hasil rekaman memberikan informasi mengenai jenis, waktu kemunculan, dan aktivitas satwa.
Bioakustik

Ketika satwa sulit terlihat, suara dapat menjadi petunjuk penting. Melalui bioakustik, alat perekam suara otomatis atau Autonomous Recording Unit (ARU) digunakan untuk merekam suara satwa pada waktu tertentu. Rekaman kemudian dianalisis untuk membantu mengidentifikasi keberadaan dan aktivitas satwa, terutama burung dan satwa yang aktif bersuara pada malam hari.
Pengamatan Burung dengan Point Count

Pada metode point count, pengamat berada di satu titik selama waktu tertentu sambil mencatat burung yang terlihat maupun terdengar. Pengamatan dilakukan dengan tenang agar aktivitas alami burung tidak terganggu dan data yang diperoleh lebih akurat.
Pengambilan Sampel Feses

Sampel feses primata dapat memberikan informasi tanpa harus menangkap atau menyentuh satwa. Analisis di laboratorium dapat digunakan untuk mempelajari mikrobioma serta materi genetik atau DNA (Deoxyribonucleic Acid). Data tersebut membantu memahami kondisi mikrobioma dan keragaman genetik populasi primata.
Pemantauan Fenologi Flora
Kehidupan satwa tidak terlepas dari tumbuhan sebagai bagian penting dari habitat dan sumber makanan. Karena itu, tim juga memantau fenologi flora, seperti waktu berbunga, berbuah, dan menggugurkan daun. Data ini membantu memahami hubungan antara ketersediaan sumber makanan dan aktivitas satwa.
Beragam Metode, Satu Tujuan
Setiap metode memberikan informasi yang berbeda. Transek membaca jejak keberadaan satwa, night herping mengungkap aktivitas reptil dan amfibi pada malam hari, kamera jebak merekam satwa yang sulit ditemui, bioakustik menangkap keberadaan melalui suara, dan point count membantu mengamati burung dari titik tertentu. Sementara itu, sampel feses memberikan informasi mengenai primata, sedangkan pemantauan fenologi membantu memahami keterkaitan antara tumbuhan dan satwa.
Dengan memadukan berbagai metode tersebut, tim dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai keanekaragaman hayati di sekitar area kerja. Setiap jejak, suara, rekaman, dan perubahan tumbuhan menjadi bagian dari data penting untuk memahami serta menjaga ekosistem.







