Prevalensi Stunting Meningkat, PTAR Jalankan Program Pencegahan Stunting di Batangtoru

Feb 27, 2023

Malnutrisi merupakan salah satu penyebab tidak langsung kematian pada balita akibat kurangnya asupan makanan yang dikonsumsi atau adanya penyakit penyerta.

Di Indonesia, terdapat belasan juta penduduk yang diperkirakan masih mengalami kekurangan gizi. Hal ini tercatat dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World terbaru yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO) pada Rabu, 6 Juli 2022. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia perlu menjadi perhatian bersama.

Di Sumatra Utara (Sumut), sebanyak 13 kabupaten/kota dinyatakan darurat stuntingatau gizi buruk kronis. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, prevalensi anak stunting di Sumut mencapai 25,8%. Angka tersebut menempatkan Sumut sebagai Provinsi ke-17 dengan jumlah anak stunting terbanyak di Indonesia .

SSGI mencatat kondisi prevalensi stunting di Sumut sangat memprihatinkan. Bahkan, Kabupaten Mandailing Natal dengan prevalensi stunting 47,1% menduduki peringkat nomor 2 dari 246 Kabupaten/Kota di 12 Provinsi prioritas. Begitu juga Kabupaten Padang Lawas yang memiliki prevalensi 42%, masuk dalam 10 besar daerah berstatus merah. Selain itu, daerah yang juga berstatus merah di Sumut adalah Pakpak Barat, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Dairi, Padang Lawas Utara, Langkat, Batubara, Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan, dan Padangsidimpuan.

Sementara itu, yang berstatus kuning atau yang memiliki prevalensi stunting di kisaran 20-30%, meliputi Samosir, Simalungun, Nias Barat, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan, Karo, Toba, Kota Gunungsitoli, Tanjung Balai, Sibolga, serta Binjai. Selain itu, ada juga yang berstatus hijau, yakni memiliki prevalensi stunting di kisaran 10-20% mencakup 6 daerah, yaitu Serdang Bedagai, Deli Serdang, Asahan, Medan, Kota Tebing Tinggi, dan Pematang Siantar.

Pemerintah Provinsi Sumut sendiri menargetkan akan mempercepat penurunan prevalensi stunting menjadi 12% pada 2023. Angka itu lebih rendah dari target rata-rata nasional sebesar 14% pada 2024. Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi yakin target ini mampu tercapai karena, saat ini, kerja sama Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota sudah semakin kuat. Upaya penurunan prevalensi ini juga didukung Tim Percepatan Penanganan Stunting yang ditugaskan menangani stunting dengan lebih konkret, efektif, dan tepat sasaran. Dalam melaksanakan tugasnya, tim ini bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga.

Stunting dapat dicegah dengan penanganan balita gizi buruk yang dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut serta untuk memperbaiki tumbuh kembang anak di masa mendatang. Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya dengan penguatan deteksi dini, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita gizi kurang, pembentukan Therapeutic Feeding Centre (TFC) sebagai pusat pemulihan gizi di fasilitas kesehatan, serta peningkatan kapasitas tim asuhan gizi dalam tata laksana gizi buruk pada balita.

Sebagai pengelola Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources (PTAR), yang berkomitmen dalam mendukung kesehatan masyarakat lingkar tambang, juga ikut mendukung upaya penurunan angka stunting di Provinsi Sumut melalui Program Pemulihan Anak Gizi Buruk ke Gizi Baik.

Program yang berjalan sejak 9 Agustus 2022 hingga 21 Desember 2022 ini berupaya untuk mengubah status gizi buruk tiga balita yang berasal dari tiga wilayah yang berbeda. Seorang pasien berusia 1 tahun 8 bulan berasal dari Desa Padang Lancat Sisoma, pasien lain berusia 2 tahun 3 bulan dari Kelurahan Muara Manompas, dan pasien berusia 4 tahun 6 bulan berasal dari Kelurahan Hutaraja.

Selama program berlangsung, PTAR memberikan bantuan berupa pemeriksaan kesehatan, yaitu pemeriksaan darah, rontgen, dan pemeriksaan feses di laboratorium Rumah Sakit Metta Medika Padangsidimpuan. Selain itu, PTAR juga menyediakan pasokan susu formula sebagai nutrisi tambahan, sesuai anjuran dokter Spesialis Anak yang memantau program ini secara rutin, satu kali dalam dua minggu.

Pada 3 Januari 2023, tiga pasien tersebut akhirnya dinyatakan dalam kondisi sudah Gizi Baik berdasarkan hasil pemeriksaan dokter spesialis anak. Mereka pun memperoleh sertifikat sebagai bentuk penghargaan karena telah berhasil mengikuti Pemulihan Program Gizi Buruk.

READ MORE

Related Posts